Harta Karun Adikku

Waktu adikku berumur 10 tahun , kami sekeluarga pernah dibuat geger olehnya. Dikemudian hari kami bisa tertawa bersama jika mengingat kejadian tersebut. Sejak masih kecil, adikku suka sekali makan. Makan apaaaa saja , terutama yang manis-manis. Dia bisa menghabiskan dua batang coklat setelah menghabiskan semangkuk es campur. Selang beberapa jam, kita bisa menemukannya sedang mengulum permen.
"Memangnya perutmu tidak sakit?" tanya nenek suatu hari. Adikku hanya menggelengkan kepalanya. Dia malah bertanya balik, "Nek , masih punya permen untukku?".


Aku kira dia tidak akan berhenti makan sampai perutnya meledak. Makanya, aku dan nenek sering sekali menyembunyikan cemilannya. Bukannya bermaksud mengejainya, ya! Kami hanya... yah, kalian tahu kan.. supaya perutnya tidak meledak.
Tapi belakangan rupanya dia bertambah cerdik. Setiap kali punya makanan kecil, dia akan menyembunyikannya di tempat yang aman. Kalau sudah begitu, kami sekeluarga angkat tangan dan cuma bisa mengingatkan untuk tidak kebanyakan makan.
Suatu ketika, dia pulang ke rumah dengan wajah ogah-ogahan. Saat aku tanya, dia tidak menjawab apa-apa melainkan segera masuk dan melewatkan makan siangnya begitu saja. AJAIB!!!! Bagaimana mungkin adikku yang doyan makan itu melewatkan jadwal harian kesukaannya begitu saja?
Aku dan nenek saling bertukar pandang. Pasti ada yang salah dengannya. Kami pun segera menyusul adik ke kamarnya. Nenek lalu meraba keningnya sambil bertanya kenapa dia tidak makan seperti biasa. Adikku menggeleng sambil menjawab, "Aku masih kenyang Nek..." Tentu sulit dipercaya, bukan?
Keesokan harinya, dia melakukan hal yang sama. Tidak makan. Bahkan sampai waktu malam! Ayah bahkan sampai turun tangan untuk membujukknya. Akhirnya adikku mau makan juga. Tapi baru makan sesuap, adikku menjerit! Gegerlah orang-orang serumah.
Perlu waktu agak lama untuk membujuk adik masuk ke ruang praktik dokter gigi. Aku pun mengimingi akan memberikan sekaleng permen kesukaannya kalau dia bersedia dieriksa. Dia pun mau masuk dengan ditemani aku dan nenek.
Gigi Adik ternyata bolong besar dan harus dicabut. Adik sempat mengamuk dan melempar apa saja yang ada di depannya. "Nanti ompong seperti Nenek!!!" jeritnya.
Syukurlah Pak dokter menjelaskan dengan sabar bahwa giginya masih punya kesempatan kedua. Gigi yang sekarang hanya gigi susuu dan kelak akan diganti dengan gigi permanen.
Sebenarnya aku agak kasihan padanya saat melihatnya menangis, tapi aku pikir penderitaanya itu pasti akan lebih lama lagi kalau gigi yang bolong itu dibiarkan lebih lama lagi menancap dalam gusinya.
Setelah selesai acara mencabut gigi yang heboh itu, Pak dokter bertanya apakah dia suka makan permen,coklat,kue, dan sejenisnya. Adikku mengganguk sambil memegangi pipinya yang bengkak. Lucu sekali melihatnya. Waktu aku mau ketawa, nenek memelototiku sambil menaruh telunjuk di mulutnya. Di hari berikutnya, nenek pun mengaku sebenarnya beliau juga sekuat tenaga menahan tawa. Kebayang tidak, adikku yang gendut dan bulat itu jadi semakin bulat dengan pipinya yang bengkak?
Sebelum pulang , Pak dokter bilang kalau dia mau gigi-giginya yang lai tanggal sebelum waktunya, dia dipersilakan memakan makanan yang manis-manis sebanyak mungkin dan tidak usah menyikat gigi menjelang tidur. Tentu saja adikku menganga ketakutan. Dia bisa membayangkan betapa tidak enaknya menahan sakit seperti kemari-kemarin, menahan ngilu ketika gigi dicabut, dan tidak bisa mengunyah dengan leluasa untuk beberapa waktu,
"Kak, permennya tidak usah jadi saja, ya" katanya sebelum tidur.
"Kenapa?" tanyaku pura-pura tidak ikut mendengar pesan pak dokter.
"Nanti giginya sakit seperti kemarin,"jawabnya pelan. Kemudian adikku mulai meraba-raba bagian bawah tempat tidurnya. "Ini..." ucapnya sambil meyerahkan sebagian kecil "harta karunnya". Seraup permen!!!
Lalu, dia membuka lemari bajunya. "Ini juga...." ucapnya lagi sambil menyerahkan dua batang coklat. Ya ampun!coklat disimpan dalam lemari baju?
"Ini yang terakhir, Kak...." katanya lagi seraya menyerahkan setangkup permen karet dari dalam lemari belajarnya.
"Jadi selama ini?Ya ampun... jangan-jangan kamu tidur sambil makan permen, ya!"
Adikku nyengir saja saat itu. Ada-ada saja ya?

Posted in . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Pengunjung yang bijak selalu meninggalkan komentar , jadi komentar ya !

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.