What is Love? : Chapter 2



Intan berjalan kembali ke kelasnya , melewati lorong dan tetap dengan suara berdecit dari lantai. Menaiki tangga dekat dengan pohon palm yang berjajar rapi yang ada di sekitar sekolahnya. Sesampainya di kelas XI 3 , dia disambut oleh sahabatnya Dini.

          “Ehem ehem...” Dini mungkin berpura pura batuk kali ini.
          “Apa jeng Dini?” Jawab Intan dengan ‘ngelel’ atau mengeluarkan lidah dari mulutnya.
          “Engga engga , mau ke parkiran kan?Bareng yuk , aku juga mau kesana”
          “Boleh boleh”

          Mereka berjalan bersama menuju parkiran sekolah yang cukup luas. Banyak mobil yang parkir disana , motor pun tidak kalah banyaknya. Matahari sudah hampir sampai di atas kepala. Panasnya cukup menyengat , untunglah di parkiran tersebut sangat banyak sekali pohon , lahan parkir sekolah tersebut hampir ditutupi bayang bayang pohon.
          Intan melihat Rendy berjalan dari arah barat sekolahnya , karena jalan masuk ke parkiran tersebut ada beberapa salah satunya arah barat tersebut. Dia sengaja berpura pura tidak melihat Rendy dan berbincang bincang dengan Dini sampai Rendy yang menyapanya terlebih dahulu.
         
“Hey Intan!”. Panggilnya sambil melambaikan tangannya tinggi tinggi.

          Intan hanya membalas dengan senyuman. Matanya menyipit karena sinar matahari yang cukup terang. Ia bergegas menghampiri Rendy dan berpamitan pada Dini yang di saat bersamaan sudah sampai di tempat tujuannya , Herman.

          “Panas ya hari ini”. Rendy membuka pembicaraan
          “Ya gitu deh , Bandung udah sama kaya Jakarta kayanya” Rasa gugup Intan benar benar hilang kali ini , di seperti sudah akrab akibat kejadian di UKS.
          “Mau pulang langsung atau gimana nih?”
          “Huh?Maksudnya?” Tanya Intan heran.
          “Emm , Aku mau ngajak kamu jalan , gimana?”
          “Hah?Hem yaudah deh ayo” Jawab Intan setuju.

          Mereka berbincang bincang dijalan. Mereka berdua ternyata memiliki kesamaan yang sama , punya kebiasaan aneh kalau gugup. Rendy kalau gugup suka pengen muntah , sedangkan Intan.. yaah menarik nafas panjang. Keduanya tertawa saat membahas perbincangan itu di mobil Rendy yang sangat nyaman.
          Saat Intan menanyakan bagaimana persiapan tim basket , Rendy menjawab kalau persiapan tim basketnya tersebut sudah mencapai sembilan puluh sembilan persen. Dan Rendy juga meminta agar Intan menonton pertandingan basket beberapa hari lagi. Karena pertandingan di gelar di Mess basketnya SMA Bina Karya yang tak jauh dari SMA Rusa Putih.
          Mereka akhirnya sampai di sebuah Mall di Bandung , Supermall lebih tepatnya karena dengan bangunan yang sangat megah berdiri diantara gedung gedung pencakar langit yang ada. Di kedua sisi mall tersebut menjulang tinggi tower yang bisa melihat kota dari atas.
          Setelah sampai di tempat parkiran mobil dan berjalan memasuki mall tersebut , mereka berdua berjalan menuju mall. Suasananya sejuk karena AC menyala dengan baik. Toko toko berjejeran dengan rapi di sepanjang lorong utama mall tersebut. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah tempat makanan cepat saji dari Jepang yang menyediakan berbagai makanan khas Jepang.

          “Makan dulu yuk?udah waktunya makan siang kayanya”. Ucap Rendy sambil melihat jam tangan yang menunjukan pukul 11.57.
          “Hem boleh deh , yuk”. Jawab Intan menyetujui usul Rendy karena Intan tidak sempat menghabiskan sarapannya tadi pagi.

          Mereka masuk ke tempat tersebut. Disambut oleh pelayan dengan sangat ramah. Mereka duduk di salah satu meja yang kosong dan Rendy memesan makanan yang sangat khas dari jepang; mie ramen.Sedangkan Intan , mengikuti apa yang Rendy pesan.

          “Sering makan disini ya?”. Tanya Intan
          “Gak sering juga sih , tapi lumayanlah setiap pertandingan basket selesai sama anak anak suka makan disini”
          “Oh pantesan”
          “Pantesan gimana?”. Rendy terlihat bingung kali ini
          “Enggak kok enggak”. Mungkin yang di maksud Intan adalah karena Rendy disambut hangat oleh para pelayan disini.

          Pesanan akhirnya datang 5 menit setelah mereka memesan makanan tadi. Dan mereka berdua makan dengan lahap karena di sekolah tadi tidak ada jam istirahat. Rendy makan dengan sangat lahap tapi juga teratur. Intan makan tidak terlalu cepat namun tidak juga terlalu lambat.

          “Emm.. aku ingat kenapa aku menyukai gadis ini” Rendy berucap dalam hatinya. Dia melihat Intan sesekali , saat makan Intan memang terlihat lebih manis karena ia makan seperti seorang bangsawan yang tetap keep it beautifull.

          Rendy yang pertama menghabiskan mie ramen tersebut. Sedangkan Intan masih setengahnya.

          “Eh itu...” Rendy lantas mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan kuah mie yang ada di sekitar mulut Intan.
          “Mmmakasih ya” Intan merasa sangat malu saat itu , namun juga senang karena biasanya tidak ada lelaki yang perhatian seperti Rendy.
          Setelah selesai makan , mereka berjalan kembali menyusuri mall. Rendy mengatakan kalau dia ingin membeli sepatu baru untuk besok bertanding dan meminta Intan memilihkan sepatu yang cocok untuknya.
          Rendy menuntun Intan menuju tempat sepatu langganannya , bukan langganan barangkali tapi memang itu adalah toko sepatu milik ayahnya. Ayah Rendy dulunya bekerja sebagai PNS , namun 10 tahun lalu ia kena PHK massal dari tempatnya bekerja. Ayahnya lantas beralih profesi menjadi wirausaha , dan memilih untuk menjadi pembuat sepatu olahraga. Sekarang tokonya sudah cukup maju dan terkenal.

          “Tan , coba pilihin mana yang bagus”. Pinta Rendy dengan halus
          “Yang ini kayaknya bagus Ren”. Katanya sambil mengambil sepatu basket berwarna putih merah dan dengan motif abstrak yang modis.
          “Hahaha , perempuan emang hebat ya”
          “Hebat kenapa?”
          “Sepatu ini itu sebenernya sepatu khusus. Dan kata ayah stoknya cuma ada 5 di toko dan gak akan ditambah lagi”. Jelas Rendy
          “Khusus gimana?”
          “Yaah , desain sepatu ini adalah desain dari ibuku dan ayah menganggapnya ini sepatu istimewa jadinya limited edition gitu”. Kata Rendy sambil nyengir.
          “Wow , memang khusus ya..”. Intan menanggapi dengan senyum

          Setelah itu Rendy meminta sepatu itu dengan ukuran kaki 42. Cukup besar juga kakinya dan mungkin karena sepatu itu hanya ada ukuran 39,40,41,42 dan yang paling besar 43. Rendy berjalan ke kasir dan membayar untuk sepatu itu.

          “Kok bayar Ren?bukannya ini toko ayah kamu ya?”. Tanya Intan pada Rendy
          “Hahaha , ya gitu deh..”. jawabnya dengan singkat.

          Hari mulai siang , tak terasa mereka menghabiskan satu setengah jam di dalam mall tersebut. Dan pada akhirnya Intan mengajak Rendy untuk pulang.

          “Ren , pulang yuk?kamu belum sholat kan?”. Tanya Intan
          “Heem , ayo deh , aku belum sholat nih”.
          “Yaudah yuk , mumpung masih jam setengah duaan”

Mereka akhirnya pulang dari plesiran ke mall tersebut. Intan yang biasanya canggung bila berhadapan dengan Rendy kini mulai menikmati hari hari bersama Rendy. Tiga hari mereka selalu pulang bersama , tiga hari pula mereka semakin berdekatan. Sepertinya timbul gerakan dari hati Intan untuk membuka hatinya yang selalu ia tutup untuk seorang laki laki. Namun sepertinya ia masih menunggu sesuatu , sesuatu yang sangat ia tunggu , entah apa itu.


Chapter 2 belum selesai.... to be continued...

                                        BY : HISYAM FAKHRI

Posted in . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Pengunjung yang bijak selalu meninggalkan komentar , jadi komentar ya !

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.