What is Love? : Chapter 2




          Hari Keempat , lagi lagi mereka semakin dekat dan dekat. Setiap istirahat mereka terlihat bersama saat di kantin , namun ada seseorang yang kelihatannya cemburu dengan kedekatan mereka berdua. Bukan dua orang lebih tepatnya , Indra dan Farin.
          Indra sudah lebih dulu mengenal Intan , namun ia belum pernah menyatakan cintanya pada Intan , Indra hanya memendam perasaannya itu sendiri. Kali ini juga ia tidak terlalu kelihatan gak suka dengan kedekatan Intan dan Rendy.
         
          *Teet Teet Teet

          Bel tanda istirahat sudah berbunyi , Indra langsung menuju kelas Intan dan mengajaknya lebih dulu daripada Rendy

          “Tan , kantin yuk?” Ajak Indra
          “Emm..” Intan kelihatan bingung , mungkin menunggu Rendy?
          “Yaudah deh yuk..” Intan menyetujui ajakan Rendy

          Saat mereka berjalan menuju tangga , Rendy baru datang dan melihat mereka. Suatu perasaan yang buruk tentunya melihat wanita yang selama ini dekat dengannya sudah lebih dulu dibawa oleh orang lain. Rendy dan Indra tidak saling mengenal. Itu penyebab Rendy bertanya tanya siapa lelaki itu.
         
          Saat di kantin.....

          “Eh jeng Intan udah nyampe duluan , tumben gak sama Rendy?” Dini datang dan duduk disebelah Intan.
          “Emm , enggak apa apa sih...” Terlihat Intan begitu menjaga perasaan Indra saat mengatakan itu.
          “Kamu sama siapa Dini?” Tanya Intan
          “Gak sama siapa siapa , makanya aku nyamperin kamu, eh Indra nanti mau nonton basket gak pulang sekolah?” Dini mengalihkan pembicaraan pada Indra
          “Hem , kayaknya gak akan deh , gue harus bantuin Ibu gue” Jawab Indra.
         
Indra memang seorang yang sangat perhatian dengan orang tuanya. Indra tinggal dengan ibunya , sedangkan ayahnya pergi meninggalkan keluarga saat Indra masih usia 4 bulan. Namun kehidupannya saat ini sangat berkecukupan sebab kakak Indra adalah seorang pengusaha muda yang sukses di Bandung.
          Indra saat SMP dikenal sebagai playboy , sebab ia termasuk orang yang sering berganti ganti pacar. Namun semenjak SMA , ia belum pernah menjalin hubungan dengan seseorang.

          “Ehh , gue duluan kali ya , kayaknya ada panggilan” Kata Indra.
          “Hahaha iya iya” Jawab Intan sambil tertawa , ia mengerti apa yang dimaksud “panggilan” itu.
          “Tan , nanti jadi nonton basket kamu?”
          “Jadi kayaknya , kamu ikut kan?”
          “Gue gak ada yang nganter Tan..” Jawab Dini yang sepertinya sedikit curhat.
          “Herman mana?”
          “Dia katanya mau Taekwondo”
          “Ohh , yaudah nanti gue anter deh sama Pak Arif”
          “Kamu gak sama Rendy?” tanya Dini yang kelihatan heran
          “Yee , Rendy kan harus ngumpul di Mess , terus berangkat ke tempat pertandingan juga naik bus sekolah”
         
          Saat sedang mengobrol , Dini mengajak seorang perempuan untuk duduk di meja yang diduduki mereka.

          “Elma... duduk sini bareng”. Ajak Dini
          “Hey , Dini , boleh boleh , ikutan yah...”
          “Tan , kenalin ini Elma , dan Elma ini Intan...” Dini berusaha membuat akrab mereka.
          “Hai , aku Intan...” Sudah seperti anak kecil saja mereka bila dilihat cara berkenalannya.

          Intan tidak pernah tau bahwa sebetulnya dunia Dini itu sangat luas , dia bisa mengenal hampir semua kelas 2 yang ada di sekolah ini , sedangkan Intan , hanya beberapa yang ia tau..

          “Oh rumah kamu disitu juga?minggu depan aku pindah kesitu loh.” Kata Elma pada Intan.
          “Ohiya?wah dapet temen main nih kayaknya”. Itu lah Intan , ia sangat mudah bergaul , namun sangat sulit memulai untuk bergaul.
          “Iya iya , besok aku main ya kerumah kamu?”
          “Boleh boleh , sekalian tunjukin mana rumah kamu nanti...”

*Teeet Teeet Teeet

          Suara bel tanda istirahat berakhir , dan lagi lagi ini adalah jam pelajaran pak Rosyid si guru “killer”. Intan dan Dini segera menuju kelas , sedangkan Elma... dia berbeda kelas dengan Intan , dia anak kelas XI satu kelas unggulan , sedangkan Intan dan Dini kelas XI tiga cukup baik juga.

          “Ayo anak anak , keluarkan tugas yang bapak berikan!” Dengan nada suara yang keras dan tegas , pak Rosyid memulai pelajaran.
          “Astaga... gue lupa” bisik seorang teman sekelas Intan.
          “Kamu udah Tan?” tanya Dini , yang duduk di sebelahnya.
          “Udah lah , gak lagi deh aku disuruh di luar..”
          “Untunglah... aku kira saking asyiknya sama Rendy kamu lupa”. Mereka saling berbisik tentunya agar tidak ketauan.
          “Daril! Keluar! Siapa lagi yang tidak mengerjakan tugas?” Tanya pak Rosyid , kelihatannya ia hendak memotong kepala murid saking tegasnya.
         
          Semua terdiam , pak Rosyid berjalan dari satu bangku ke bangku lain , mengecek tugas para murid kelas XI tiga. Sampailah pada meja Dini dan Intan.

          “Wah wah , kamu langsung jera sejak kejadian waktu itu ya”. Untuk pertama kalinya pak Rosyid bersikap lembut di hadapan murid sekelas itu.
          “I...iy..iya pak hehe” jawab Intan dengan senyum.

          Pelajaran langsung dimulai , melanjutkan materi kemarin yang belum selesai di bahas. Intan sangat memperhatikan pelajaran tersebut. Sedangkan Dini terlihat ogah ogahan , malah hampir tertidur , namun tetap menunjukan “keep it beautifull”-nya.
          Pelajaran kali ini memang terkesan sangat membosankan karena terus membahas tentang itu itu saja tanpa ada inovasi agar membuat para murid antusias.
         
          Saat pelajaran selesai mereka tinggal menunggu waktunya pulang karena di sekolah mereka , istirahat 2kali. Yang pertama jam setengah 10 sampai jam 10 dan yang kedua jam setengah 12 sampai jam 1.

          *Teeeeeeeeet

          Satu suara bel namun sangat panjang menandakan berakhirnya kegiatan mengajar di SMA Rusa Putih. Dini yang tadi terlihat hampir tertidur segera lekas keluar bersama Intan. Seperti yang sudah di rencanakan , hari ini mereka aka nonton pertandingan basket.
          Mereka menuju parkiran dan melihat pak Arif sudah menunggu di salah satu tempat yang memang sudah menjadi tempat pak Arif menunggu Intan. Intan dan Dini masuk mobil. Saat diperjalanan mereka berbincang.

          “Pak , anterin ke SMA Bina Karya ya” Kata Intan.
          “Mau nonton basket ya non?”
          “Iya pak , pacarnya main soalnya” Sambar Dini dengan cepat.
          “Wah wah , kabar baik nih non Intan sudah mulai pacaran” Jawab pak Arif dengan senyum senyum
          “Ih belum kok pak belum...”. Intan sepertinya berusaha menutup nutupi , namun memang ia belum berpacaran dengan Rendy.
          “Aahh , belum tapi sebentar lagi juga jadi , wleee”

          Mereka asik mengobrol dengan pak Arif yang memang sangat ramah terhadap Intan , pak Arif kadang menjadi tempat curahan hati Intan karena beliau sangat bisa menjaga rahasia dan memberi solusi yang tepat.

          “Nah , udah nyampe nih non , selamat berpacaran ria ya” Kata pak Arif sambil terbahak bahak , namun tetap menjaga attitude.
          “Hahaha , apa sih ah pak , ohiya bapak langsung pulang aja gausah nungguin aku , okey!”.
          “Eh gila lo , aku pulang sama siapa?” tanya Dini
          “Mmm , udah lah ayoo”

          Mereka memasuki area sekolah , tidak heran mengapa sekolah Bina Karya ini menjadi sekolah nomor satu di Bandung. Bangunan sekolah yang sangat megah , bersih , setiap koridor terdapat satu hal yang menarik. Piagam! Di setiap melewati satu ruangan pasti ada piagam tertentu , betapa hebatnya sekolah ini. Pikir Intan dalam hati

To be Continued....

Posted in . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Pengunjung yang bijak selalu meninggalkan komentar , jadi komentar ya !

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.